[Busaku] Review The Old Man And The Sea Karya Ernest Hemingway
![]() |
"Lalu apa rencanaku berikutnya? Aku harus bisa mengakali rencana si ikan itu. Jika ia melompat, aku bisa membunuhnya. Tapi jika ia bertahan selamanya, aku juga akan bertahan selamanya."
Assalamu'alaikum minna-saannn~ Konichiwaaaa! Akhirnya bisa kembali menulis di blog yang update kalau yang punya lagi mood (haha). Sebenarnya tulisan ini sudah pernah kuunggah di Goodreads, tapi yah kurasa tak ada salahnya kuunggah juga di sini, lumayan biar nggak dikira blog mati huhu--sama nambah kegiatan, karena biasanya setiap menulis ulang tulisan lama pasti ada aja yang direvisi (kalian merasakan hal yang sama ya kan?).
Ngomong-ngomong bagaimana kabar kalian? semoga kalian sehat selalu, baik selalu dan rezekinya dilancarkan selalu. Apalagi ini mendekati bulan puasa, semoga kebaikan-kebaikan menyertai kita semua, aamiin. Jujur saya takut nggak bisa bertemu dengan menyelesaikan bulan puasa tahun ini. Harap maklum, saya memang sering overthinking mengenai apakah masih ada hari esok untuk hamba yang penuh salah ini. Dan pelampiasan saya adalah dengan menulis, entah di sini, Medium ataupun Substack.
Buku ini merupakan buku ketiga yang kubaca di tahun 2026. Eh, bentar-bentar bang, kenapa jadi langsung loncat ke buku ketiga, kenapa nggak mulai dari ulasan buku pertama di tahun ini? Alasannya sebenarnya sederhana, karena saya pengen aja, apalagi tiap kali saya buka tautan Goodreads di browser-ku, entah mengapa selalu diarahkan ke buku ini--sebenarnya juga karena waktu menulis ulasannya aku sering terdistraksi banyak hal, sehingga menempel lama di browser-ku--jadi mungkin memang takdirnya buku ini dituliskan di sini hahaha.
Buku ini mengisahkan kisah seorang nelayan tua bernama Santiago yang melewatkan delapan puluh empat hari tanpa menangkap seekor ikanpun. Sampai-sampai nelayan tua ini ini mulai dijuluki sebagai salao, yang memiliki arti sebagai bentuk terburuk dari ketidakberuntungan. Walaupun bernasib apes, sang nelayan tua tersebut tetap memiliki tekad yang kuat dan meneruskan berlayar sebagai ajang pembuktian kalau ia belumlah habis. Dan tepat di hari kedelapan puluh lima, umpan pancingannya disambar oleh seekor ikan marlin sangat besar, dari sinilah kisah tentang perjuangan dan pertaruhan harga diripun dimulai.
"Aku menjaganya dengan persis. Hanya saja aku tak lagi punya keberuntungan. Tapi siapa tahu? Mungkin hari ini. Setiap hari adalah hari yang baru. Memang lebih baik kalau beruntung. Tapi aku lebih suka menjadi tepat. Sehingga saat keberuntungan datang kau sudah siap." — hlm. 39-40
Kalau aku ditanya bagaimana rasanya ketika membaca buku ini, maka aku akan menjawab, persis seperti perjuangan nelayan tua dalam pertarungan menaklukan ikan marlin super geude dalam buku ini: melelahkan, membosankan, bikin frustrasi, tetapi entah bagaimana aku merasa harus terus melanjutkan membaca kisahnya sampai akhir.
![]() |
| Tangkapan pribadi |
Asli, rasanya capeeeeeeeeeeeeek banget ketika membaca buku ini, belum lagi gaya penceritaannya yang cukup unik, membuatku membutuhkan sedikit waktu agar dapat beradaptasi untuk bisa menikmatinya. Bahkan aku terkadang sampai di titik bosan ketika nelayan tua ini hanya mengisahkan pertarungan (beserta dengan keluhan-keluhannya) ketika berhadapan dengan ikan marlin tersebut selama berhari-hari.
Hal ini juga ditambah dengan kebiasaan beliau terus-menerus memuja-muja pemuda bernama Manolin (overglazing), yang menurut pendapatku pribadi terlalu repetitif dan membuatku sedikit muak, walaupun aku masih dapat bersimpati mengingat beliau hanyalah nelayan tua dan tentunya keseharian dan pelayarannya selama beberapa waktu terakhir selalu ditemani pemuda tersebut (aku mungkin akan melakukan hal yang sama jika di posisi nelayan tua tersebut, untuk melampiaskan rasa frustasi).
Namun, semuanya perlahan mulai terbayarkan, kisahnya perlahan-lahan berhasil menyedot perhatianku terlebih betapa dramatis perjuangan dan kuatnya tekad sang nelayan tua tersebut untuk tetap bertahan dan mengalahkan ikan marlin tersebut di kondisi yang cukup pelik, plus mengingat juga umurnya yang sudah tidak lagi muda .
Kepiawaian Hemingway dalam membangun narasi yang kuat dan unik, sukses menjadi cita rasa tersendiri menurutku. Buku ini seperti memiliki ciri khasnya sendiri dalam mengutarakan kisah-kisahnya dibandingkan buku lain. Karakter dan latar kisah dalam buku ini terasa kuat dan natural, gaya penulisan yang apa adanya justru menjadi nilai lebih buku ini. Kurasa tidak mengherankan kalau buku ini bisa meraih penghargaan Pulitzer pada tahun 1953 dan Nobel sastra setahun setelahnya. Namun, karena hal ini juga di beberapa momen yang seharusnya dapat lebih menegangkan atau lebih dramatis jadi malah terasa hambar.
"Seorang lelaki bisa dihancurkan tapi tak bisa dikalahkan." — hlm. 133
Pada awalnya aku ingin memberikan tiga bintang saja untuk buku ini, tetapi karena plot di separuh akhir cerita yang sangat menarik, akhirnya mengubah pemikiranku—bahkan membuatku sempat bimbang apakah harus memberi tiga atau empat bintang di Goodreads—sampai akhirnya penutup kisah ini membuatku yakin untuk memberi empat bintang kepada sebuah kisah epik pertarungan sang nelayan tua dan ikan marlin yang keduanya sama-sama memiliki tekad sekuat baja. Aku menaruh hormat pada sikap tersebut, terlebih ketika sang nelayan tua menunjukkan empati kepada ikan yang sedang ia lawan. Bagiku, hal tadi merupakan salah satu poin yang menarik selain ketika sang nelayan tua menambatkan pandangannya mengenai hubungan antara manusia dan lautan. Aku cukup menyukai bahasan filosofis dalam buku ini.
Yah kurasa, sampai di sini saja edisi busaku kali ini, memang nggak panjang-panjang banget karena sebenarnya hanya menyadur, merevisi dan menambahkan sedikit yapping dari apa yang kutulis di Goodreads. Jika kalian tertarik dengan ulasanku yang lain bisa membacanya di sana—walaupun tulisannya banyak typo, nggak rapi dan terasa aneh karena dituliskan tanpa ba-bi-bu setelah selesai membaca (kek yang di sini rapi aja hahaha). Akhirul kata, terima kasih banyak yang mau menyimak yapping ane di sampai akhir dan wassalamu'alaikum, see ya next time
![]() |
| kayak biasa. selalu ditutup dengan gif ini hahahaha |



"Seorang lelaki bisa dihancurkan tapi tak bisa dikalahkan." keren juga quotesnya
ReplyDeleteAku ketawa pas baca bagian “capek banget tapi tetap lanjut” karena aku juga ngerasain hal yang sama waktu baca buku ini 😅 Memang terasa repetitif dan melelahkan, tapi justru mungkin itu yang bikin kita ikut masuk ke perjuangan Santiago. Bagian “Seorang lelaki bisa dihancurkan tapi tak bisa dikalahkan” itu juga salah satu yang paling nempel buatku. Rasanya sederhana tapi dalam banget. Dan aku setuju, separuh akhir ceritanya memang bikin penilaian berubah.
ReplyDeleteini novel sastra yang cukup terkenal apalagi penulisnya Ernest Hemingway, penulis jadul. Membaca buku sastra dengan penulis jadul kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia, agaknya kadang menjemukan bahasanya karena hal itu juga saya alami ketika membaca buku To Kill A Mockingbird hehe..lanjut gak nih bacanya? but karya sastra jaman old sebenarnya punya nilai-nilai yang kuat, dari buku ini dapat dipetik bahwa laki-laki masih punya harga diri meskipun tak membawa tangkapan apapun.
ReplyDeleteMaaf bangeeettt aku nggak baca review ini secara full, karena The Old Man and The Sea ada di daftar bacaku, dan aku tidak mau kena spoiler 😭🙏
ReplyDeletebtw ... bolehkah kita saling berteman di Goodreads? Nama akunku Impy Island ^^
Saya baca novel fisiknya udah lamaa banget, malah yg versi Inggris asli, pinjam dari guru Sastra Inggris wkt SMA
ReplyDeleteBukunya menarik, kaya pengen baca juga
ReplyDeleteCuma kalau di zaman sekarang melaut lama tapi gak dapat ikan juga, pasti keburu cape, bete dan lainnya. Apalagi kalau ada keluarga yang butuh dinafkahi. Jadi beda cara pandang perjuangannya ya
Salam kenal, Bang sebelumnya. Nampaknya, saya baru pertama berkunjung ke blog ini.
ReplyDeleteSaya belum baca bukunya, tapi nampaknya sabar banget sampai puluhan hari tetap istiqomah walau tanpa ikan. Meluncur kepo ah ke akun Goodreads-nya.
Kalau saya jadi Kakek Santiago belum tentu kuat bersabar sampai menunggu hingga 85 hari hingga akhirnya mendapatkan ikan marlin besar. Kereen yaa kakek nii bisa bersabar hingga sejauh itu.
ReplyDeleteKukira yang capek cuma saya mas pas baca buku ini, ternyata kita samaan. Hehehe.. saya baca buku ini dua tahun lalu kalau nggak salah, milihnya karena bukunya tipis dan dari ernest hemingway. Tapi ternyataaaaaa.. tipis tapi bikin lama baca. Seingat saya saya butuh waktu hampir satu bulan buat nyelesaikan. Karena emang ngantuk poll bacanya.
ReplyDeleteTapi justru pas mendekati ending dan si santiago lawan ikan di tengah laut, melek deh mata. Maklum agak parno sama laut. Wkwkw.. 😂
Buku ini memberi motivasi agar saya saat menjelang usia lanjut tetap berjuang dengan semangat yang terus muda dan terus mencoba dalam hidup.
ReplyDeleteMenarik juga bagaimana kakak membandingkan versi yapping spontan di Goodreads dengan versi yang lebih rapi—dua-duanya punya pesona sendiri. Yang satu mentah dan emosional, yang satu reflektif dan tertata. Dan ya, typo, keanehan, dan kekacauan kecil itu kadang justru jadi ciri khas penulisnya. Thanks juga sudah berbagi, ditunggu yapping edisi berikutnya
ReplyDeletewowww saya melihat sudut pandang lain dalam menulis... bisa jadi ide yang bagus ini. ambil beberapa catatan dari buku lalu diintrepertasikan sendiri... keren kak
ReplyDeleteBener kak, kita kalau menulis ulang artikel lama, ada aja rasanya yang perlu direvisi, sama halnya kayak nulis tesis (T_T). Btw aku jadi salah fokus sama Goodreads, pas aku klik, eh harus login.
ReplyDeleteGapapa tulisan tak rapi dan ada typo adalah tanda ditulis sendiri bukan pakai AI, Hoahaha ngebelain soalnya saya ratunya typo.
ReplyDeleteBtw, saya baca buku ini pas masih sekolah tapi lupa edisi indo apa eng dan tak berkesan sama sekali karena ya.. mau menamatkannya saja susah banget rasanya huhu. Mungkin ga cocok saja sama selera saya atau usia saya waktu itu yang susah terkoneksi dengan pak nelayan tua.