patah hati itu bernama Indonesia

Keluku merupakan dokumentasi pribadi penulis

Tulisan ini juga tersedia di Medium, Substack dan X Artikel saya, jika kalian berminat membaca, memberi komentar, atau dukungan lainnya di sana, saya akan mengapresiasi dan berterima kasih ^^

Happy reading <3

Sebagai pembuka, saya ingin mengklarifikasi terlebih dahulu bahwa tulisan ini bukanlah sebuah kritik untuk pemerintah kita yang kerap abai dan menganggap kritikan sebagai sebuah serangan tanpa dasar dari anteck-anteck wuasing. Tulisan ini hanyalah sebuah keluhan, keresahan, dan rasa sakit hati yang terus menumpuk selama enam belas tahun lamanya.

Saya ingat sekali, patah hati pertama saya dengan Indonesia adalah gelaran Piala AFF 2010, saat saya masih berumur sembilan tahun dan baru saja jatuh cinta dengan olahraga sejuta umat. Saya sering tersipu malu sekaligus tersenyum getir dengan kenyataan bahwa saya jatuh cinta dengan sepak bola karena kekalahan Indonesia di final. Saya ingat betapa polosnya diri saya yang sempat mengira bahwa negara sebesar Indonesia memiliki tim sepak bola yang hebat, apalagi waktu di babak awal bisa melumat tetangga, Sang Harimau Malaya.

Rasa sakit pada saat itu terus tersimpan di hati saya hingga saat ini, terlebih kemarin kita baru saja kembali mengubur mimpi dalam-dalam untuk bisa melihat timnas senior kita meraih juara di gelaran yang sama—ini belum termasuk betapa sakit hatinya saya ketika Indonesia gagal lolos Piala Dunia. Saya terus berharap lamat-lamat dari hati terdalam (sejak umur sembilan tahun), semoga suatu hari nanti saya memiliki kesempatan untuk menimba ilmu kepelatihan di Eropa dan kembali ke negeri ini untuk membawa Sang Garuda terbang tinggi, walau seiring bertambahnya usia, saya semakin realistis dan menganggap mimpi ini akan menjadi perjalanan yang sangat—sangat—panjang.

Jika kalian mengira patah hati ini hanya tentang sepak bola saja, maka kalian salah besar. Saya yang saat itu mulai beranjak ke bangku SMP perlahan mulai menyadari, ada yang salah dengan negara ini. Kasus Hambalang menjadi patah hati saya saat itu, walaupun saat itu saya masih belum terlalu mengerti arti dari korupsi, tetapi saya mengerti, saya tahu, dan saya paham kalau itu adalah sebuah perbuatan yang salah.

Sejak saat itulah saya mulai terpapar dunia politik. Terlebih lagi, di waktu yang sama, seorang pria dari Solo perlahan mulai naik ke permukaan. Saya masih mengingat betapa polosnya saya kala itu dengan terpesona oleh imej merakyat beliau. Gemes rasanya mengingat anak semuda itu sudah lebih banyak menonton acara berita daripada nonton FTV cinta-cintaan atau tontonan seusianya seperti Si Bolang dan Laptop Si Unyil. Seandainya saya bisa kembali ke masa lalu, rasanya ingin saya pentung atau cubit anak itu hahahaha.

Kisah patah hati selanjutnya menyapa ketika saya baru saja berseragam putih-biru. Di kelas 7, saya dan jutaan anak Indonesia lainnya resmi dijadikan "kelinci percobaan" oleh negara melalui perubahan kurikulum yang terkesan dipaksakan demi menjawab tantangan zaman, katanya. Kami dipaksa menelan mentah-mentah sistem baru yang bahkan para guru pun masih meraba-raba cara mengajarkannya.

Hal yang membuat situasinya semakin kampret adalah ketika kami diombang-ambingkan perihal kurikulum ini. Saya ingat, pada semester dua kami ditarik mundur untuk kembali menggunakan kurikulum KTSP, tetapi anehnya untuk acuan masih menggunakan buku dan silabus Kurikulum 2013. Kekacauan ini terus berlanjut hingga saya lulus dan lanjut ke masa putih-abu-abu.

Di masa ini saya tidak terlalu mengingat patah hati apa saja yang saya rasakan terhadap negeri ini, yang saya ingat betul hanyalah ada seorang koruptor kampret yang melakukan drama gratis dengan berpura-pura kecelakaan dan mendapat giveaway benjol segede bakpao. Namun, di masa ini saya perlahan makin melek dan semakin menyadari betapa “sakitnya” negara ini, terutama ketika melihat tingkah laku sebagian pejabatnya.

Meme Benjol Segede Bakpao Dokumentasi Ngopi Bareng

Kesadaran ini lambat laun semakin menumpuk, mengendap hingga mencapai titik jenuh di dalam benak saya. Terlebih sekarang, di usia saya yang sedikit lagi mencapai seperempat abad. Bekerja di lingkungan yang dekat dengan pemerintahan semakin membuat saya merasakan betapa luluh lantaknya sistem pemerintahan negara ini—dari lini atas hingga bawah, dari titik pusat hingga daerah, dari wakil rakyat hingga kepala desa.

Menjalani realita pekerjaan ini dari hari ke hari terasa sangat melelahkan dan menyakitkan. Saya sering bertanya dalam diam, “sebenarnya siapa sih yang salah? Saya atau lingkungannya?” Ya, saya tidak akan munafik kalau saya diberkahi privilege mendapatkan pekerjaan ini jalur koneksi. Tetapi, pekerjaan ini memang sesuai dengan kompetensi dan apa yang saya pelajari sejauh ini, dan saya terus mencoba untuk bekerja sebaik mungkin.

Jujur saja, ada sebersit rasa insecure saat menuliskan tentang hal ini. Dengan privilege yang saya miliki, terkadang saya merasa tidak pantas untuk menyuarakan keresahan ini. Saya merasa bahwa rasa sakit ini tak sebanding dengan mereka yang hidupnya jauh lebih sulit dari saya. Namun, kenyataan di lapangan yang saya hadapi benar-benar meremukkan hati kecilku, merencah sekelumit kepolosanku tentang keyakinan bahwa masih ada secercah cahaya kecil untuk keadaan yang lebih baik bagi negara ini.

Birokrasi yang belibet, orang yang tidak sesuai kompetensi, hingga keputusan-keputusan yang terkadang diambil murni berdasarkan hitung-hitungan politik, bukan efisiensi atau data riil di lapangan. Terserahlah apa komentar kalian nantinya ketika membaca ini, mau kalian anggap saya terlalu lemah, naif, dan sebagainya, saya tidak peduli. Tulisan ini hanyalah sebuah katarsis untuk diri saya melepas sedikit penat dan jenuh di kepala. Karena pada faktanya saya masih bertahan sembari memegang kuat keyakinan dan kompas moral saya demi sesuap nasi esok hari.

Ilustrasi oleh Batu Bertuah (teman sekaligus seniman favorit saya)

Saya bersyukur bisa ada di pekerjaan ini walaupun harus dibayar mahal dengan rangkaian sakit hati yang berkesinambungan. Jika kalian mengira catatan sakit hati ini hanya sampai di sini, tentu saja tidak. Sakit hati terbesar saya adalah melihat kenyataan bahwa sebenarnya negara kita kaya dari program-program yang terkesan “sangat” dipaksakan oleh pemerintah saat ini, MBG dan Kopdes. Melihat dana yang sudah digelontorkan setiap harinya untuk program yang tidak tertata dan terkoordinasi dengan baik membuat saya benar-benar muak.

Betapa bodohnya saya dahulu sempat mengira bahwa negeri ini tidak sekaya dan mungkin tidak memiliki uang sebanyak itu hanya karena utang negara yang semakin menumpuk. Seandainya saya atau kita mengetahui hal tersebut sedari lama, mungkin seharusnya kita tidak akan mendengar kabar guru yang digaji rendah dan anak-anak yang harus bertaruh nyawa menyeberangi jembatan rusak untuk dapat bersekolah atau potret viral anak-anak yang menyantap MBG di luar gedung sekolah yang atapnya sudah rubuh lebih dari enam bulan lamanya.

Patah hati ini belum termasuk melihat kinerja lambat pemerintah dalam pemulihan pascabencana banjir di Sumatera (utamanya Aceh), pemadaman listrik bergilir yang masih menjadi santapan sehari-hari di Kalimantan, lalu seringnya saya mendengar keluhan teman sebaya tentang betapa sulitnya mendapatkan pekerjaan, serta rentetan ketimpangan daerah lainnya yang sering luput dari pandangan kita.

Dari rentetan patah hati tadi, jujur saja, saya dan mungkin juga kalian pernah melenguhkan kalimat, “kenapa sih aku terlahir WNI?” kan? Saya tidak akan menyalahkan keluhan tersebut, atau bahkan menyuruh kalian pindah dan cari negara lain saja seperti seseorang. Karena pada kenyataannya, dari lubuk hati terdalam, kita masih mencintai negara ini. Mau segila apapun kehidupannya, mau sehancur apapun sistemnya, di sinilah kita dilahirkan. Di sinilah kita menjalani kehidupan, mulai dari bayi berambut tipis hingga jadi kakak-kakak dengan tumbuh lebat bulu jembut, di sinilah kita menemukan teman, sahabat, dan belahan hati. Di sinilah kita sering tertawa, tersenyum, marah, dan menangis.

Ya, di sini, di Indonesia!

Pada akhirnya, yang saya benci adalah sistem bobrok yang sudah berjalan lama di negara ini, bukanlah negara ini. Patah hati itu bernama (pemerintah) Indonesia, sial memang hahahaha. Selamat Hari Ulang Tahun ke-81 Tahun negeriku, semoga (silahkan isi sendiri di kolom komentar).

Ilustrasi oleh Batu Bertuah (Rune Plegethon)


Terima kasih sudah membaca keluhan saya, semoga ini tidak menjadi demotivasi ataupun deloverasi—istilah apa ini wkwk—untuk kalian dalam mencintai tanah air ini. Jujur saja, saya menangis ketika menulis ini, rasanya sakit, perih, begitu banyak luka yang ditorehkan oleh oknum bajingan di atas sana kepada kita rakyat, kampret memang hahaha. Ya, sudahlah sampai jumpa di lain waktu.

Special thx for Orang Tua dan Keluarga, Selestia Rahmah, Batu Bertuah, Abang Anonim di Balik Foto Keluku Tulisan Ini, Media Kompas, Bang Raditya Mahendra Yasa, Media Ngopi Bareng, dan Rekan-Rekan di Hujan Kata dan Mahastudent.

See yaa~

Comments