Review Suzume no Tojimari : Masa Depan Tidak Semenakutkan Itu



Assalamu'alaikum minna-san, konnichiwa. Bagaimana kabar kalian? Semoga sehat dan baik selalu. Pertama-tama aku ingin mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakannya, aku tak menyangka blog ini akan ulang tahun pada awal-awal bulan ramadhan.

Baiklah, kali ini aku bakal nge-review film anime Suzume no Tojimari karya Makoto Shinkai yang baru-baru ini tayang di bioskop Indonesia (setelah menunggu sekitar 4 bulan lamanya). Kira-kira bakal kayak gimana nih? apakah bakal sebagus film-film sebelumnya? apakaha bakal melampaui Kimi no Na Wa yang dahulu sukses membuatku mengeluarkan air mata. Mari kita gaskeun! Oh, iya! Sebelum lanjut aku lupa ngingetin nih, kalau review ini mengandung sekitar 5% spoiler dari filmnya, kalau kamu adalah tipe orang yang bener-bener anti dengan spoiler sebaiknya segera tinggalkan review ini, bergegas nonton filmnya sampai habis dan kemudian balik lagi ke sini untuk berbagi kesan-kesannya sehabis menonton filmnya (disarankan menyiapkan tisu sebelum memasuki ruang bioskop, takutnya air matanya gak kebendung nanti hahaha). OK Let's go, otw review!


Tipe Anime : Film (Movie)
Tayang : 11 November 2022
Anime Musim : Fall
Episode : 1
Jam Tayang : -
Produser : STORY Inc., Toho
Studio : CoMix Wave Films
Source : Original
Genre : Adventure, Fantasy, Mystery dan Supernatural
Rating : PG-13
Durasi : 2 Jam 1 Menit
Rating Anilist : 82% / 100% (per tanggal 24 Maret 2023)
Rating My Anime List : 8.61 / 10.0 (per tanggal 24 Maret 2023)

Anime ini mengisakan kisah Suzume Iwato, seorang gadis berusia 17 tahun yang tinggal bersama bibinya Tamaki di sebuah kota kecil di Miyazaki, Kyushu. Suatu malam, ia bermimpi menjadi dirinya yang lebih muda, mencari ibunya di sebuah lingkungan yang hancur. Keesokan paginya, dalam perjalanan ke sekolah, Suzume bertemu dengan seorang pemuda yang mencari tempat-tempat terbengkalai dengan pintu. Ia memberitahunya tentang sebuah resor onsen tua di dekatnya. Didorong oleh rasa penasaran, Suzume mengikuti pemuda itu ke resor terbengkalai itu, di mana ia menemukan sebuah pintu yang berdiri sendiri di atas bingkainya. Ia membuka pintu itu dan melihat sebuah ladang berbintang yang tidak bisa ia masuki (ia melewati pintu seperti biasa). Ia kemudian tersandung pada patung kucing yang menjadi kucing putih sungguhan dan melarikan diri. Takut, ia pergi dan menuju sekolah.

Kemudian saat jam makan siang, terjadi gempa kecil. Suzume melihat sebuah kolom seperti kobaran api muncul dari lokasi onsen yang tidak bisa dilihat orang lain. Kembali ke sana, ia menemukan pemuda tadi, mencoba menutup pintu itu. Melihatnya kesulitan dan terluka, Suzume bergegas membantu, memungkinkan pemuda itu mengunci pintu dengan kunci tua. Kolom merah itu menghilang, tetapi tidak sebelum menabrak secara tak terlihat ke kota dan menyebabkan kerusakan seperti gempa bumi. Suzume membawa pemuda itu, Sōta Munakata, ke rumahnya untuk membalut lukanya. Ia menjelaskan bahwa ia bepergian ke seluruh Jepang, mencari dan mengunci pintu di tempat-tempat terbengkalai untuk mencegah seekor "cacing" supranatural raksasa menyebabkan gempa bumi di pulau-pulau itu. Kucing dari resor itu muncul dan mengubah Sōta menjadi kursi anak-anak tempat ia duduk. Sōta, sekarang menjadi kursi animasi dengan satu kaki hilang, mengejar kucing ke feri menuju Ehime dengan Suzume mengikutinya.

Pintu-pintu mulai terbuka satu demi satu di seluruh Jepang, melepaskan kehancuran pada siapa pun yang berada di dekatnya. Suzume harus menutup portal-portal ini untuk mencegah bencana lebih lanjut (source : Wikipedia).

Fotonya kurang banget, karena banyak banget yang mau foto bareng posternya huhu 😭

Secara singkatnya sih dari aku, Suzume ini merupakan seorang gadis indigo yang bisa melihat alam gaib tempat di mana cacing besar alaska bersemayam yang bisa menyebabkan gempa bumi apabila pintu-pintu penghubung alam gaib dengan dunia nyata masih terbuka dan ia bersama Souta si juru kunci alias pawang gempa mencoba untuk mencegah kucing nakal (yang bangkit dari batu tadi) tidak membuat pintu-pintu yang ada di berbagai penjuru Jepang ini mengeluarkan cacing besar alaska dan menyebabkan gempa yang merusak sekitar. Jujur aja nih, waktu aku nonton animenya di bioskop aku gak baca sama sekali sinopsis ini, bisa dibilang aku buta banget soal ini anime. Kayak orang "beli tiket, nunggu, duduk, nonton dan terkesima sama filmnya", padahal biasanya aku selalu coba cari tahu dulu sinopsis atau rating review dari para penikmat film di Instagram dan Twitter. Jadi, pas nonton kemarin tuh aku kayak "wah-wah" sendiri, bahkan aku kaget kalau di filmnya ada cacing besar alaska yang bisa menyebabkan gempa bumi. Aku ngiranya ini film soal melawan monster-monster dari alam gaib (ketahuan akhir-akhir ini kebanyakan lihat anime action macam Jujutsu Kaisen atau Kimetsu no Yaiba).

Baiklah, itu saja rev-. Canda-canda, yakali reviewnya pendekkan wkwk. Yaudah daripada makin kebablasan cerita-ceritanya, mari kita langsung ke inti pembahasannya kan?

Agak nyesal gak nonton 11 Maret 😐

Tiap kali nonton ke bioskop pasti pake sarung wkwk

Cerita : 9.0/10

Pertama-tama, aku pengen bahas dari segi cerita. Seperti yang aku bilang di atas tadi, aku orang yang bener-bener 'buta' informasi saat menonton film ini. Jadi aku mikirnya ini anime bakal kayak film-film sebelumnya Makoto Shinkai yang berfokus kisah dua sejoli yang bertemu lalu memadu kasih (bucin). Dan apa yang kupikirkan itu udah hampir jadi kenyataan ketika Suzume dan Souta bertemu untuk pertama kalinya di jalan. Di sini aku hampir mau protes sama Makoto Shinkai langsung karena si Suzume gak ada angin, gak ada hujan tiba-tiba langsung jatuh cinta pandang pertama sama si Souta karena dia ganteng (yah emang ganteng sih bwahahaha). Tapi, c'mon-lah, alur sinetron Indonesia aja ada bumbu berantem dan tsundere-nya dahulu sebelum kedua insan manusianya memadu kasih, ini malah si Suzume langsung kesemsem sama om-om berambut panjang misterius, kalau di Indonesia si Souta ini mungkin udah dikira jamet kali ya wkwk. Akan tetapi, rasa ingin protesku ini seketika sirna ketika unsur misteri dan supernatural mulai ditambahkan, perlahan tapi pasti mata kepalaku kembali tersedot untuk menyimak cerita di film ini, mengindahkan pikiran absurd tadi. Aku begitu tersedot oleh adegan-adegan yang disajikan, mulai dari usaha mereka untuk mencegah si kucing (namanya Daijin, kayaknya di sinopsis tadi gak disebutin kan namanya) mimizu alias cacing besar alaska keluar dari pintu ke mana saja, lalu perjalanan Suzume dengan kursi paling tampan di jagat anime, yang mana si Suzume ini beruntung bertemu dengan orang-orang baik yang mau membantu dan menampungnya selama berkelana jauh. Menurut pendapat kami, Makoto-sensei berhasil membungkus bencana alam dalam narasi lembut namun mendebarkan (kami? buat yang nanya, review ini hasil pemikiran dua orang, tapi kayaknya aku kebanyakan ambil peran lmao).

Ketika ngelihat adegan ini, jiwa bocahku seketika bergejolak untuk membuka pintu rumahku kayak gini juga wkwk

Film ini secara metafora menyorot sistem koping para penyintas dan bagaimana mereka berjuang mencari alasan hidup. 12 tahun lalu, Suzume kehilangan ibu dan rumahnya dalam bencana alam hebat. Merujuk buku harian Suzume, 11/03 merupakan tanggal terjadinya Tohoku Earthquake. Gempa bermagnitudo 9.1 (salah satu dari empat gempa terbesar di Jepang) yang memicu tsunami dan menghancurkan pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daichii. Sampai sekarang daerah tersebut kosong karena tingginya materi radioaktif.

Tempat yang kosong dan terabaikan inilah yang menjadi inspirasi Makoto-sensei melatari gerbang-gerbang mimizu. Tempat yang dulunya banyak kenangan dan cerita, diserap Suzume sebagai penyegel Pintu Antar Dimensi. Seolah kenangan adalah penyembuh luka, bukan memperkeruh sakit hati yang diwakili Daijin dalam cerita.

9 dari 10 untuk cerita yang disajikan, walaupun pacing anime ini bisa dibilang agak cepat (hanya untuk paruh awal atau pembuka, setelah itu berjalan normal) dan kejadian Suzume jatuh cinta pandang pertama sama om-om ini bikin agak gimana gitu. Namun, sisi positif dari anime ini bisa dibilang banyak banget. Bahkan aku sampai menangis 2 atau 3 kali di beberapa adegan paruh akhir, contohnya saat adegan Suzume mencoba menyemangati Suzume kecil, damn! Suzume benar! Masa depan tidak semenakutkan itu! 

:(


Grafis dan Animasi : 9.5/10

Kalau soal ini kayaknya gak usah ditanya, film-film Makoto Shinkai itu udah the next level lah. Grafisnya itu memanjakan mata banget, bisa dibilang instagramable atau nggak enak banget buat dipakai sebagai foto sampul profil media sosial atau wallpaper hp atau pc. Satu hal yang menarik perhatianku adalah penggunaan CGI untuk adegan-adegan cacing besar alaska, terutama cacing besar alaska yang muncul di tengah kota Tokyo. Tenang-tenang, aku nyinggung soal CGI bukan untuk mengkritik, justru malah memuji karena CGI-nya smooth banget, yah untuk film anime sebesar ini emang kudu wajib mulus dan nyaman dilihat oleh mata-mata orang yang sudah pasti berekspektasi tinggi dengan film Makoto Shinkai ini. Jadi penilaian dariku sudah cukup jelaskan dan gak perlu dipertanyakan lagikan? 9,4 dari 10 untuk grafis dan animasi.

Entah kenapa, adegan masukin kunci ini keren dan heartwarming banget :'


Karakter : 8.8/10

Suzume Iwato, anak manis, bertekad kuat, memiliki tenggang rasa, baik hati dan tentu saja cantik dan kawaiii ini menjadi tokoh utama dalam film ini, yang sudah sepatut dijadikan waifu kalian wahai para wibu (Di hati saya sih masih Mitsuha namba wan). Ia remaja sekolah biasa yang sialnya bertemu dengan Souta sang pawang gempa dan terlibat aksi menutup pintu demi menyelamatkan Jepang. Suzume sendiri bingung kenapa ia bisa melihat cacing Mimizu (dalam pikiranku selama film, Suzume ini indigo atau nggak dia ini sebenarnya keturunan pawang gempa juga, eh ternyata cuman anak kecil yang pernah kesasar ke alam gaib).

Kurangnya, karakter Suzume digambarkan mudah akrab dengan orang-orang yang dijumpainya. Kadang tokoh Suzume terlalu disetir dan cepat ambil keputusan tanpa pikir panjang. Mungkin karena durasi film, konflik utama langsung masuk di menit-menit awal sehingga penonton belum sempat menjalin simpati pada tokoh utama. Karenanya di atas aku tadi bilang pacing ini bisa dibilang kecepetan di paruh-paruh awal. baru beberapa menit, belum sempat mengenal jauh karakter Suzume udah langsung disodorin konflik utama. Kalau dianalogikan kayak kalian belum belajar apa-apa tapi tiba-tiba udah disuruh jawab soal (bener gak sih,ah terserahlah). Tetapi hal itu dapat teratasi setelah bermenit-menit kemudian.

Suzume manis banget ^^


Souta Munakata, ganteng, pintar, kalem, dewasa, dan bertanggungjawab ini rela mengorbankan dirinya demi keselamatan orang banyak (ini semua ditulis oleh penulis satunya, aku cuman bisa geleng-geleng bacanya, padahal diakan cuman sebuah kursi hahahaha). Awalnya ia yakin jalannya adalah dengan meletakkan diri di jalur kematian. Tetapi petualangannya menuntun pada ide harapan baru, bahwa ia mampu mencintai diri sendiri dan orang lain. Adegan Souta menemukan harapan dan keinginan untuk hidup lebih lama ini merupakan adegan yang membuatku menangis deres. I can feel it my bro, semoga kita semua bisa berumur panjang dan menemukan harapan dan kebahagian kita masing-masing bersama dengan orang yang dicinta dan menyayangi seperti Souta.

Interaksi keduanya bisa dibilang kurang kemistri. Seolah ada bumbu yang hilang yang bikin hubungan Suzume dan Souta terasa hambar sebagai dua pasangan yang tengah kasmaran. Mungkin, karena fokus film yang nggak fokus pada kisah bucin dua sejoli. Jadi yah, porsi romansa di film ini hanya pemanis kawula muda seperti saya yang berpikir film Makoto Shinkai itu kisah dua bucin wkwk

Suzume bersama kursi paling ganteng sejagat anime wkwk


Karakter sampingan di film ini juga ditampilkan cukup menarik. Contohnya seperti bibinya Suzume, Tamaki digambarkan overprotektif dan overthinking, wajar saja mengingat ia harus membesarkan Suzume seorang diri padahal dirinya juga harus bekerja sampai larut malam. Lalu ada Serizawa temannya Souta yang menjadi angin segar di film ini, ini karakter entah kenapa pesonanya malah melebihi dua MC tadi, mungkin karena saking lucu dan lawaknya, tapi walaupun diceritakan agak konyol, Serizawa merupakan orang yang peduli dan perhatian. Dan juga yang pasti dia punya selera musik yang bagus 😎. Kemudian ada Daijin yang menjadi sumber masalah di sini dan bikin aku kesel dan sebel sendiri (walaupun dia cukup lucu). Namun, seiring berjalannya film, aku malah kasihan dan sedih sama dia huhu. Sisanya karakter lainnya seperti Chika, emak-emak pemilik bar, dua bocil dan kakek Souta lebih seperti karakter sampingan yang membantu Suzume berkembang.

We're a great team - Souta. lmao πŸ˜…


Suara : 9.0/10

Akhirnya sampai juga di bagian akhir review ini, suara. Aku merasa terpuaskan dengan suara-suara yang ada di film ini, mulai dari suara latar belakang seperti suasana perkotaan, suara angin, air dan lain sebagainya membuat telingaku termanjakan, lalu musik latar belakang yang mendukung setiap adegan dan suasana yang ada di dalam filmnya dan juga sudah jelas adalah musik dari RADWIMPS yang sukses bikin merinding. Ini salah satu pikiran absurd kepalaku lagi ketika film, entah mengapa film ini bisa dibilang agak minim musiknya (suara RADWIMPS-nya), aku baru sadar film ini kurang musiknya ketika adegan Suzume tengah bersiap untuk menyelamatkan Souta dari alam gaib. Tapi gak papa juga sih, kayaknya nggak bagus juga kan adegan aksi Suzume dan Souta ditambahkan musik dari RADWIMPS yang di film kali ini kebanyakan lebih santai dan hangat vibes-nya dibandingkan dua film sebelumnya.

Untuk para seiyyu atau pengisi suara di film ini pun juga sudah menjalankan tugas dengan sangat baik, suara manis Suzume, suara berat Souta sukses anteng di telingaku, aku sempat kepikiran kalau seiyyu Souta ini adalah Akira Ishida, seiyyu dari karakter Gaara dan Katsura Kotarou dari anime Naruto dan Gintama, suaranya sekilas mirip banget, tapi ternyata salah orang. Yah, sepengetahuanku sih Makoto Shinkai jarang menggunakan seiyyu kondang atau lama untuk karakter utama di film-nya, pasti seiyyu-seiyyu baru dan muda yang memiliki suara yang masih fresh dan asing di telinga penikmat anime. Yang paling menarik perhatianku adalah suara dari Daijin yang imut namun ngeselin dan suara Serizawa, temen Souta yang kayak gak asing. Dan ternyata pengisi suaranya adalah Kamiki Ryunosuke yang menjadi pengisi suara Taki Tachibana dari Kimi no Na Wa, pantesan kayak gak asing lmao, apakah ini bisa dibilang cameo dari Kimi no Na Wa? wahahahahaha.

Tambahan : Playlist Serizawa bagus semua πŸ˜‚πŸ˜­

Masih penasaran siapa seiyyu si kucing nyebelin ini




Cerita : 9.0/10
Grafik dan Animasi : 9.5/10
Karakter : 8.8/10
Suara : 9.0/10
Nilai Akhir : 9,075


Kalau kalian nanya ini film rekomendasi atau nggak, kayaknya nggak usah kujawab udah tahukan pasti jawabannya wkwk. Recommend banget! Mumpun filmnya masih ada di bioskop, buruang gih nonton, lumayan sambil ngabuburit nunggu buka puasa menikmati sajian anime yang menggugah selera mata, telinga dan hati kalian. Eh, tunggu sebentar? berarti nonton Suzume bisa bikin batal puasa dong? Woh jelas iya, kalau kalian nontonnya sambil ngemilin popcorn wkwk. Ngomong-ngomong soal cacing besar alaska yang jadi sorotan utama di film ini, aku ada searching-searching kalau cacing ini memang terinspirasi dari legenda mitologi rakyat Jepang yaitu Namazu atau kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah lele. Jadi diceritakan Namazu atau ika lele raksasa ini dipercayai hidup di bawah tanah dan dia yang menyebabkan gempa bumi yang ada di Jepang. Nah si lele ini pun menurut legenda mitologi juga ditahan dan dijaga oleh dewa Takemikazuchi (Kashima) dengan sebuah batu agar tidak menyebabkan gempa terus menerus. Ketika Kashima ini melepaskan pengawasannya, di saat itulah Namazu ini bergerak dan menyebabkan gempa bumi yang kuat. Jadi, bisa dibilang Makoto Shinkai terinspirasi dari mitologi ini sehingga muncullah sebuah mahakarya Suzume no Tojimari, di mana Namazu (lele) diubah menjadi Mimizu (cacing) dan kedua makhluk ini sama-sama ditahan oleh sebuah batu (Daijin si kocheng).

Video di atas bonus, wkwk

Aku rasa sampai dahulu reviewku mengenai film ini, bagi yang udah mari kita diskusi yuk, siapa tahu ada yang terlewat dari aku saat menuliskan review ini 😭. Review kali ini bakal kututup dengan sebuah quote dari film ini yang mengena banget di hati.

“Begini Suzume, sesedih apapun dirimu sekarang, kau akan tumbuh besar. Jadi, jangan khawatir, masa depan tidak semenakutkan itu. Kau akan bertemu banyak orang yang kau sayangi dan kau akan bertemu banyak orang juga yang akan menyayangimu. Malam mungkin tampak tanpa akhir sekarang. Tapi suatu hari, pagi akan datang. Kau akan tumbuh besar bermandikan cahaya itu.”

Mohon maaf jika ada salah kata, akhirul kata wassalamu'laikum minna-san dan selamat malam

Seperti biasa, ditutup dengan gif ini hehehe


Penulis : Sya & Thiya Rahmah

Comments

Yang Lagi Rame