[Busaku] Review Sang Penyembuh Karya Chayun Nugroho
![]() |
Assalamu'alaikum minna-san, konnichiwa. Let's go! Postingan pertama blog ini di tahun 2026. Ngomong-ngomong gimana kabarnya? Baik? Sehat? Semoga baik dan sehat selalu, aamiin. Yah semoga saja kalian nggak bosen-bosen sama blog yang jarang update ini haha. Walaupun tahun kemarin bisa dibilang nggak jarang-jarang banget dan banyak digendong sama pesanan dari Seedbacklink. Namun, ane sih berharapnya tahun ini bakal lebih banyak lagi postingan yang ane tulis pure karena pengen dan kesukaan ane.
Back to the topic, sebagai pembuka tulisan blog Catatan Syahid Noor di tahun ini, kali ini ane akan mempersembahkan segmen busaku untuk salah satu teman dunia mayaku yaitu Mas Yuncha. Kalau kalian masih ingat dahulu blog ini pernah ngebahas tentang server discord edukasi Ruang Belajar, nah beliau ini merupakan salah satu penghuni endemik server tersebut. Dan kemarin November, alhamdulillah, aku yang orang Kalimantan ini, yang keluar pulaunya bisa dihitung jari diberikan rezeki dan kebahagian berlebih Yang Maha Kaya untuk bersua dengan teman-teman daringku, salah satunya adalah beliau.
Dan karena pertemuan tersebut, akhirnya pertemanan kami semakin erat dan saling bertukar kontak WhatsApp. Kemudian pada suatu sore atau malam (saya lupa), beliau menghubungiku dan memintaku untuk mengulas tulisan lama beliau berbentuk novelet. Alasannya sederhana, karena beliau melihatku sering menuliskan ulasan buku yang sudah kubaca tahun ini di Goodreads (kemudian saya bagikan di story WA dan IG). Tentu saja ini sebuah kehormatan bagi ane, kapan lagi yah kan bisa membaca tulisan anak ISI Jogja jurusan teater hahahaha (just kidding yah bang Yuncha).
![]() |
| Padahal baru beberapa bulan lalu, tapi rasanya udah kangen aja sama Kota Jogja hahaha, yah semoga diberikan rezeki kesehatan, umur dan tentunya cuan biar bisa kembali lagi ke sini. |
Bagiku, setiap perjalanan pasti ada tempat untuk kita singgah, bersandar dan melepas penat. Begitu
pula dalam perjalanan membaca 100 buku tahun ini (semoga berhasil tahun ini, yah walaupun nggak terlalu berharap banget tetapi kenapa tidak yah kan?), perjalan tersebut pasti juga ada kisah-kisah kecil seperti membaca karya rekan-rekan sejawatku, singkatnya seperti side quest dalam main quest.
Secara keseluruhan aku suka dengan cerita yang dibawakan dalam buku ini, tema yang diangkatpun menarik untuk
diikuti, yakni mengisahkan seorang gadis bernama Sameena yang melakukan perjalanan
jauh melintasi Gurun Sahara demi menemukan bunga Budhimana yang konon katanya
bisa menyembuhkan luka racun yang perlahan melunyah di kakinya.
Di setiap langkah perjalanan dan perhentian Sameena dalam buku
ini mengandung banyak pelajaran-pelajaran hidup yang dapat kita ambil dan
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menjadi pribadi yang terus bersyukur, mengenali batasan-batasan diri terutama dalam hal fisik dan
nafsu hingga bagaimana cara untuk berbaik sangka dengan segala yang telah terjadi kepada diri kita di dunia. Terlepas dari adanya kesalahan tik dan kepenulisan dalam buku ini, semua hal tersebut masih bisa dimaklumi karena tulisan ini kata mas Yuncha masih bersifat prototipe, dan tentu masih harus disempurnakan lagi.
Gaya kepenulisan pada buku ini pun mudah untuk diikuti,
terasa melankolis tetapi tetap tegas. Hanya saja hal yang sedikit menggangguku
adalah ketidaktegasan–tidak konsisten–sifat dan karakter dari Sameena sendiri.
Karena ketika aku membaca pada bagian pertengahan cerita aku melihat Sameena
sebagai seorang gadis yang labil, denial, agak keras dan banyak omon-omon
besar. Namun, ketika dihadapkan dengan tokoh seperti Alhakimi justru malah
plong-melompong menerima seluruh perkataannya. C’mon man, padahal jujur saja, daripada hanya sekadar menyantap seluruh nasihat dan ceramah yang dilontarkan Alhakimi, aku
justru sangat menantikan apa saja balasan-balasan denial yang akan dimuntahkan oleh Sameena. Padahal dalam bab-bab sebelumnya Sameena dengan beraninya melantamkan
kekesalan–keluhan–kepada Tuhan dengan segala penyesalannya selama ini. Aku
menginginkan dialektika dan ketegangan antara Sameena dan Alhakim sebelum
akhirnya dia tersadarkan atas kesalahannya selama ini.
Secara keseluruhan aku suka dengan buku ini walaupun dengan perasaan sedikit mengganjal, dan aku berharap semoga dengan adanya tulisan yang tidak sempurna dariku ini, sang penulis sekaligus rekan dunia mayaku ini beserta dengan tulisannya bisa menjadi lebih, lebih, lebih baik lagi di lain kesempatan.
Akhirul kata, aku mohon maaf jika ada salah kata dalam penulisan ini. Yah sebenarnya tulisan ini sudah pernah kuunggah di IG story beberapa waktu lalu–tentunya dengan izin mas Yuncha loh ya–jadi aku hanya perlu melakukan revisi tipis-tipis dalam ulasan versi blog ini. Alhamdulillah lek, jujur aja ane bersyukur banget bisa memanfaatkan ulasan ini untuk mengisi blog aneh ini biar gak kelihatan mati hahahaha. Bagi kalian yang ingin membaca bukunya bisa kalian klik tautannya di sini. Wassalamu'alaikum dan salam hangat all ^^
![]() |
| See ya next time |















Comments
Post a Comment
Komen aja, saya gak gigit kok :3